Gudeg dan Fenomena Gudeg Yu Djum
Sejak ber-tahun2 lalu sobat Alumni mengatakan
tentang kunjungannya ke Jogya dan merasa belum ke ibukota DIY jika tidak menikmati
Gudeg yu Djum yang fenomenal. Tapi ada kejutan dari dr. Susan yang menyatakan yu
Djum wafat dan langsung menyebar via Japri atau grup ketika itu.
Berikut disajikan sejarah Gudeg dan
Gudeg yu Djum
Gudeg, makanan khas Jogja. Bahan baku
gudeg : Nangka muda dimasak dengan santan kelapa, daun jati, salam, lengkuas
dan bumbu2 lain direbus di atas tungkitar 100®C selama 24 jam. Gudeg Jogja yang
komplit disajikan dengan tahu, tempe, telur bebek, suwiran daging ayam, dan
tentu nasi putih.
Sejarah gudeg mulai saat dibukanya Alas (hutan) Mentaok dibangun Kraton Mataram. Di hutan itu banyak pohon nangka, dan banyak pohon kelapa yang tumbuh di pinggir hutan dan tepi sungai. Dengan kreasi para perintis Mataram tercipta gudeg; dan jadi menu utama masyarakat Mataram kala itu.
Sehingga gudeg ini lebih mudah
dijumpai di Jogja. Jaman dulu orang Jogja hanya mengenal satu jenis gudeg,
yakni gudeg basah. Gudeg kering dikenal setelahnya, sekitar 1950-an tahun. Hal
ini setelah orang2 luar Jogja mulai membawa sebagai oleh2.
Makanan ini mudah Anda jumpai di sepanjang Jl. Wijilan, timur kraton Jogja. Sebagai oleh2 Anda bisa pilih gudeg kering yang tahan selama 3 hari berkemasan menggunakan 'besek' (tempat dari anyaman bambu) atau menggunakan 'kendil' (guci dari tanah liat yang dibakar).
Yang unik, beberapa penjual gudeg
Wijilan ini dengan senang hati memperlihatkan proses pembuatan gudegnya jika
pengunjung menghendaki. Selain di Wijilan Anda bisa temukan menu ini di
beberapa restoran, pasar2 dan banyak tempat lain.
Salah
satu gudeg terkenal cita rasanya adalah Gudeg Yu Djum. Diteruskan turun menurun
dan kini generasi ke-4. GUDEG YU DJUM menyajikan gudeg kering yang terkenal ber-rasa
gurih dan lezat, cocok untuk dijadikan oleh2.
Lokasi
warung Gudeg Yu Djum terletak di Jalan Wijilan, jalan Kaliurang km.4 dan di
jalan Adisucipto. Warung Gudeg Yu Djum memberi kesempatan ke wisatawan asing
dan domestik untuk langsung melihat proses pembuatan Gudeg, atau terlibat
proses pembuatannya.
Gudeg
Yu Djum mulai 1950-an, diawali usaha Yu Djum berjualan rumput yang hasilnya
ditabung dan dibelikan peralatan untuk jualan
gudeg. Gudeg kering jadi pilihan karena tahan 24 jam. Berbagai wadah disediakan
tempat gudeg ini: Kardus, besek, dan kendil, yang dilambari daun pisang, bukan
kertas minyak atau foil tahan panas.
Pembuatannya
diawali : Mengolah nangka muda (gori), diberi bumbu2 “standar” seperti gudeg
lain. Hanya, proses memasaknya menggunakan kayu bakar. Gulanya adalah gula
merah murni dari Wates atau Purworejo dan garam kristal. Gudeg baru enak
setelah melalui proses pembakaran 18 jam.
Penyajian
gudeg dilengkapi sambel krecek, tahu-tempe bacem, dan cabe rawit rebus.
Uniknya, meski bumbu tahu-tempe bacem ini sama dengan tahu-tempe bacem umumnya;
tetapi rasanya berbeda ketika tahu tempe itu dihidangkan bersama gudeg.
Gudeg
Yu Djum bisa menghabiskan 50-150 ekor ayam dan 2.000-4.000 butir telur
seharinya. Hari libur, bisa 2x lipat. Gudeg berbungkus daun, bermenu telur separo
plus tahu dan daging ayam suwir.
Selain
berjualan di Wijilan, Yu Djum juga melayani pembeli di Karangasem. Dibukanya
rumah Yu Djum di Karangasem sebagai tempat usaha penjualan gudeg ini karena
pada awalnya gudeg Yu Djum Wijilan (ketika itu masih menyewa) hanya buka dari
pukul 06.00—12.00.


Post a Comment